Snow and Rain

Jumat, 28 Desember 2018

When We Were Young

Bicara soal masa kecil? Apa bagian dari masa kecil yang masih kalian ingat dengan baik? Klo saya sih banyak.


Saya masih ingat saya selalu demam setiap malam sebelum pengambilan raport, takut nilainya turun. Padahal mah nilai turunpun sebenarnya bapak ibu gak pernah marahin anaknya.

Saya masih ingat, setiap  saya dibelikan sepatu baru sama bapak saya selalu memakainya saat tidur, karna takut digigit tikus (padahal itu mah bercandaan bapak aja)

Saya masih ingat rambut saya kebakar api ketika main masak2an terus langsung dipotong pendek sama ibu, setelah itu rambut saya diberi lidah buaya dan minyak kemiri, ibu takut rambut saya rusak.

 Saya masih ingat saat ada pemeriksaan gigi di sd saya, lalu 6 gigi saya dicabut sekaligus oleh dokter. Pengen nangis, tp setelah tu ibu saya datang lalu membelikan eskrim yg favorit saat itu, conello. Yang bahkan sayapun bingung gmn mau makannya.

Saya masih ingat saat pulang sekolah smp, saya dibelikan sega sebagai hadiah karna saya peringkat 1. Dan hari itu saya main sampe jam 10 malem, harus dimarahin dulu baru mau tidur.

Saya masih ingat setiap menonton sinetron di malam hari dan saya tertidur di depan tv, bapak selalu mengangkat saya dan membaringkan di kasur.

Saya masih ingat setiap berbuka puasa, saya selalu kalap makan dan akhirnya kekenyangan, bapak akan mengambil centong nasi lalu perut saya diserok lalu diarahkan ke ibu dan mbak saya sembari berbicara “nasi di perut di adek dibagi ke mbak dian sama ibu”. Dan saat itu, saya selalu percaya setiap habis perut saya diserok maka rasa kekenyangan saya sedikit berkurang. Ini sih sugesti aja.

Saya masih ingat setiap saya pulang sekolah, ibu akan selalu menanyakan hal seperti “gmn dek sekolahnya? Td belajar apa aja? Ada PR apa gak?”

Saya masih ingat, saya dan mbak saya dari kecil tidak dimanjakan untuk dirayakan hari ulang tahunnya. Kami hanya makan bareng di mall dan bapak ibu akan menanyakan “mau kado apa?” dan akan dibelikan di mall itu juga. Jadi kita mah ga pernah ngerasain rasanya tiup lilin trus unboxing kado2 gitu.

Saya masih ingat dulu saat sd saya bermain lompat karet bersama teman-teman saya dan ketika adzan dzuhur saya tetap maksa main, hingga kemudian saya terjatuh lalu kaki saya keseleo. Trus pulang2 dimarahin ibu, lalu menangis. Menangis bukan karena dimarahi, tetapi karna saya merasa saya memang salah.

Dan masih banyak lagi kenangan2 masa kecil yang saya ingat. Saya memang tidak lahir dari keluarga yang kaya. Tapi Saya sangat bersyukur dibesarkan di keluarga saya. Keluarga yang tidak pernah mengeluh, pekerja keras, dan takut akan Tuhan. Terimakasih Ibu. Terimakasih Bapak. Atas didikan dan kasih sayang yang tanpa batas.

Kamis, 14 Mei 2015

Bukan Sempurna Tapi Terbaik

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman laki-laki yang bertanya pada saya "caranya ngilangin rasa bosen sama pasangan kita itu gimana?", trs saya jawab, "kamu bosen sama pacarmu? emang kamu udah berapa lama pacaran?", lalu dia jawab "hampir 2 tahun. Emang mbak ga pernah ngerasa bosenkah pacaran lama?" saya jawab "enggak". Saya, tidak bisa menjawab bagaimana caranya menghilangkan kebosanan dalam suatu hubungan, karena saya tidak tahu indikator perasaan yang bagaimana yang bisa dikatakan seseorang itu bosan.

Kemudian teman saya tsb bercerita kalau dia merasa hubungannya terasa datar, dia sering memberikan kejutan untuk pacarnya tapi pacarnya jarang melakukan hal yang sama. Mereka berpacaran, tapi seperti tidak mampu saling menggenggam satu sama lain. Kalaupun bergenggaman, itu tidak erat. Kalaupun berjalan, mereka tidak beriringan, tp saling mendahului satu sama lain.

Cerita yang lain, ada teman laki-laki saya yang lain juga bercerita, dia punya mantan panggil saja mumun (yang juga teman saya sebetulnya), mereka putus karena ternyata mumun ini lebih memilih balikan dengan mantannya drpd meneruskan hubungannya dengan teman saya, yah...semacam gagal move on gitu lah. Tapi ada yang aneh disini, si mumun ini masih kelihatan masih memberikan harapan ke teman saya, dengan beralasan kalau dia balikan dengan mantannya bukan karena keinginan dia, karna sebenarnya dia masih menyayangi teman saya dan ingin teman saya untuk tetap selalu ada disampingnya. Hah, it's so complicated. Kemudian teman saya bertanya ke saya, "gw mesti gimana?", dan saya jawab "kamu tidak harus melakukan apapun, kamu cukup melihat apa yang dia lakukan. lihat bagaimana seseorang yang munafik kebingungan menata perasaannya sendiri."

Agak aneh rasanya mendengar kedua curhatan teman laki-laki saya, seorang laki-laki yang katanya pemikirannya lebih simple, tapi buat saya justru lebih cenderung rumit dari pemikiran wanita. Untuk kasus yang pertama, sebenarnya kuncinya hanya di komunikasi. Keterbukaan dan evaluasi dalam suatu hubungan itu penting, tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk bertemu dan menyampaikan keluhan masing-masing. Hal ini yang sering diabaikan oleh setiap pasangan, mereka menganggap masih tetap bisa berkomunikasi lewat ponsel. Padahal terkadang ada hal2 yang hanya bisa diselesaikan lewat bertatap muka, karna lebih jujur. Dengan ponsel, saya bisa saja mengirim emot senyum padahal aslinya gondok, ketawa ngakak padahal aslinya gak girang2 amat. Tapi lewat bertemu secara langsung, tidak ada ekspresi yang mampu ditutupi. Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menutupi apapun, sampaikan apapun keluhan kita, marahlah jika memang harus marah, menangislah jika memang harus menangis, tapi selesaikanlah saat itu juga, saat pertemuan itu, hingga disaat kita pulang untuk berpisah tidak ada lagi beban yang tak terungkap. Begitulah hubungan yang sehat bekerja, hingga nantinya tidak akan ada rasa bosan yang melanda, yang ada hanyalah berfikir bagaimana cara membahagiakan satu sama lain.

Dan di kasus kedua, kuncinya adalah jujur. Jangan berkata ya, ketika sebenarnya hatimu ingin berkata tidak. Kamulah yang bertanggung jawab atas hatimu, ketika kamu merasa tersakiti jangan salahkan orang lain, Itu salahmu yang salah dalam mengambil keputusan. Jadi terimalah konsekuensi yang ada. Hidup itu soal pilihan dan resiko, kamu tidak dapat memilih tanpa resiko.Dan ketika suatu keputusan sudah dibuat, kamu hanya harus menjalaninya dengan baik dan jangan pernah menyesal. Ah, saya benci kata itu, saya benci kata "menyesal". Karna seharusnya tidak ada penyesalan yang timbul ketika kamu sudah berani mengambil keputusan. Jangan pernah menuntut agar dunia selalu bersikap baik pada kita. It's too much dude. Jangan jadi manusia yang menyeramkan seperti itu.

Setiap hubungan tidak ada yang sempurna, kamu hanya perlu melakukan yang terbaik. Dan bila itu tidak berakhir dengan baik, setidaknya tidak ada penyesalan yang akan timbul setelahnya.


Rabu, 13 Mei 2015

(Un)conditional Love?

Kemarin, saya baru saja menonton sebuah film judulnya “gone girl” dibintangi oleh ben Affleck as nick dan rosamund pike as amy. Diawal cerita dari film ini asumsi saya, film ini bercerita tentang seorang suami yang kehilangan istri yang sangat dicintainya, bisa jadi sang istri diculik atau dibunuh, dan sang suami menjadi sangat terpukul karna dia amat sangat mencintai istrinya tersebut. Tapi ternyata, semua asumsi saya salah besar, sampai ditengah cerita tidak ada adegan kesedihan, tidak ada adegan meratapi kepergian sang istri, dan tidak ada adegan lovable. It’s all about revenge! Ya, ternyata amy adalah seorang psikopat yang mensetting seolah2 dia dibunuh dan dibuang oleh suaminya sendiri, Nick. Dia ingin menjebloskan suaminya ke dalam penjara karna rasa sakit hatinya mengetahui kalau suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dia merencanakan dengan detail apa yang harus dia lakukan, tanpa bisa terlihat celah keraguan sedikitpun bagi polisi untuk pada akhirnya menetapkan nick sebagai pembunuhnya. How was the ending sep? Saya bingung. Saya tidak bisa mengatakan film ini sad/ happy ending. It has twist ending. Silakan buktikan.

Kamu tau apa yang saya pikirkan setelah melihat film itu? tidak ada manusia yang sanggup mencintaimu selamanya. Bahkan istri/ suamimu nantinya. Seseorang yang memiliki banyak cinta, maka sebanyak cinta itupula banyak bencinya. Ketika kamu dikecewakan oleh orang yang benar-benar kamu sayangi, maka rasa kecewanya pun berkali-kali lipat banyaknya. Itupula yang dirasakan Amy, ketika dia melihat secara langsung suaminya selingkuh dan bagaimana sang suami memperlakukan selingkuhannya persis seperti memperlakukannya saat awal perkenalan dulu. Its hard feeling to explain. Tapi, amy tidak cukup mampu mengendalikan emosinya sehingga dendam itupun bertumpuk dan pecah.

Kamu tau apa yang paling sulit dari suatu hubungan? Memaafkan dan memahami. Menyadari bahwa pada dasarnya pasangan kita juga merupakan manusia biasa yang suatu saat mampu mengecewakan. Memahami bahwasanya pasangan kita tidak sesempurna yang kita inginkan dan bayangkan. Yang mungkin kekecewaan yang bertubi-tubi itu nantinya mampu mengikis rasa cinta kita secara perlahan namun pasti dan mampu habis tak bersisa dan berganti dengan benci dan keinginan untuk membalas rasa kekecewaan tersebut. Pada akhirnya kita akan menyadari kita tidak mampu mencintai pasangan kita selamanya. Yang perlu kita lakukan agar nantinya tidak timbul dendam dari kekecewaan tersebut adalah memaafkan.

Memaafkan kesalahan yang mungkin dilakukan pasangan kita, karna menyadari manusia paling ahli dalam menciptakan kekecewaan, bukan hanya pasanganmu tapi semua manusia. Memaafkan untuk diri, yang ingin bersikap menghakimi atas kesalahan orang lain, berdamai dengan diri sendiri, dan meyakinkan diri bahwa segalanya lebih indah tanpa emosi yang berlebihan. Dan belajar dari Tuhan yang bahkan masih mau melihat Kita yang terkadang mengingkari-Nya.

Pada akhirnya, Unconditional love and Infinity Love hanya milik Tuhan kepada umatnya dan ibu kepada anaknya. Tidak ada manusia yang sanggup mencintaimu selamanya, temukan saja dia yang mampu memaafkanmu hingga akhir…


Kamis, 24 Juli 2014

LETTER FOR YOU AND HER...

LETTER FOR YOU AND HER...



Hai blog,
Rasanya sudah lama sekali tidak ngutak ngutik kamu. Padahal banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan. Terlalu banyak. Sehingga membuat lupa. Ya, semua yang serba terlalu memang tidak baik. Terlalu banyak kesakitan dan hal-hal mengecewakan yang saya alami. Tapi harus tetap disyukuri, karena juga tidak sedikit kebahagiaan yang Dia beri. Kebahagiaan itu pasti datangnya dari Tuhan, tapi kekecewaan? selalu datangnya dari manusia. Bukan dari kamu atau kalian kok, itu semua salah saya. Salah saya yang membangun harapan terlalu besar pada kamu. Dan ketika harapan itu tidak menjadi nyata, itu buat saya kecewa. Ya, itu semua salah saya.
Salah saya yang terlalu berharap kamu selalu ada disamping saya,
Salah saya yang terlalu naif dan hanya mampu melihat sisi baikmu,
Salah saya yang terlalu yakin kalau kamu hanya mencintai saya dan tidak akan pernah tergoda yg lain,
Salah saya yang terlalu bermimpi berangan membangun semua hal yang indah bersamamu,
Salah saya yang terlalu percaya diri bahwa kita tidak akan saling meninggalkan dan membelakangi satu sama lain.
Salah saya yang terkesan mendahului takdir Tuhan dan berfikir kamu lah yang terbaik.

Tapi pada satu dan lain hal, saya juga sempat berfikir dan bertindak benar
Saya benar, untuk memilih mengakhiri ini semua denganmu
Karna saya sadar dengan cara itu, Tuhan menampar saya dari tidur yang penuh dengan harap dan mampu menyadarkan saya bahwa kamu bukan untuk saya...

Rasanya itu buruk, apalagi ketika saya yang seharusnya paling marah di posisi saat itu tp justru dimaki dan dihina oleh rival saya. Saya bukan orang yang sabar, tp saya bukan orang yang suka mencari masalah. Saya juga tidak berani menyalahkan dia yang mendekati kamu, karna tamu tidak akan masuk apabila tuan rumah tidak membukakan pintu. Itu terjadi tentunya bukan karna kesalahan salah satu pihak. Tapi itu cukup memberikan pelajaran buat saya, untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap hubungan orang lain karena saya tau benar bagaimana rasa sakitnya.


Untuk kamu, semoga kamu bisa lebih bahagia dengannya. Karna mungkin dia bisa memberi apa yang tidak mampu saya beri. Kalaupun kamu tidak bahagia, bertahanlah, karna itu pilihanmu, karna perjuanganmu memilih dia sudah memakan korban satu hati anak manusia, saya.

Untuk dia/ anda, terimakasih telah membantu saya menunjukkan lelaki mana yang setia dan mana yang tidak. Semoga lelaki itu, dapat merangkul anda dan benar mampu setia ketika bersama anda. Dan saya mohon, jangan lakukan hal yang sama lg terhadap laki-laki lain yang sudah memiliki hubungan. Anda cantik, saya dan wanita lain mungkin kecantikannya dibawah anda, tapi kami punya sisi kecantikan yang mungkin tidak anda miliki, yaitu harga diri...

Kamis, 01 Agustus 2013

It’s all about what you need or what you want


Terkadang ada bias untuk mengungkapkan dan mengartikan tentang hal-hal apa yang kita inginkan dan tentang apa yang kita butuhkan. Kita manusia, kadang suka melangkahi Tuhan dengan menganggap sesuatu (entah benda ataupun manusia) adalah apa yang kita butuhkan. Yang padahal kalau ditelisik lebih jauh, rata-rata yang mengatakan itu adalah kebutuhan adalah hanya nafsu kita untuk mendapatkan hal tersebut.

Dulu saya begitu, Saya teramat sangat menjaga orang yang saya anggap saya sangat membutuhkannya. Demi cara apapun saya menjaga orang tersebut agar tidak lepas dari saya. Yang pada akhirnya, saya pun harus kehilangannya. Bukan karena saya menyerah mempertahankannya, hanya saja dia yang melepaskan dirinya sendiri. Bukan saya yang sudah tidak membutuhkannya, hanya saja dia sudah tidak membutuhkan saya lagi untuk kehidupannya.

Awalnya saya sedih karena mungkin merasa sangat kehilangan, namun ketika saya mengalami kehilangan yang berkali-kali pada orang yang sama, perlahan saya mulai merasa mati rasa, saya mulai tidak bisa merasakan apa itu kehilangan dan apa itu menjaga. Entah merasa lelah entah mulai menyadari bahwa dia bukanlah orang yang saya butuhkan.

Saya menyadari, harusnya orang yang saya butuhkan bukanlah orang yang menyakiti kemudian menyesal dan meminta maaf, orang yang saya butuhkan adalah orang yang akan berfikir 100 kali lebih banyak apabila ingin menyakiti saya. Karena seharusnya, orang yang menyayangimu dengan benar tidak akan pernah berfikir untuk menyakitimu sekalipun. Sejak saat itu, saya memahami dan saya mulai belajar untuk mengerti bahwa tidak semua yang kamu inginkan adalah yang kamu butuhkan.  Dan tidak semua yang kamu inginkan dapat kamu dapatkan.

Nyatanya, Tuhanlah yang selalu benar. Setengah mati kita menyangkalnya, Dia akan menunjukkannya. Kalaupun hingga saat ini saya masih mengingatnya, itu karena Tuhan masih memberikan tempat di otak saya untuk mengingatnya tapi bukan untuk memilikinya lagi. Dia memang yang saya inginkan, tapi dia bukan yang saya butuhkan. Saya lebih butuh kamu, yang tidak akan pernah meninggalkan saya sesulit apapun itu.

Minggu, 23 Desember 2012

Karna Hati Itu (harusnya) Dipilih...



“Karna hati itu dipilih, dan bukan memilih”-Dee (Perahu Kertas)

Mungkin, dia memang tidak sempurna. Tapi dia, berusaha untuk terlihat sempurna dimata saya

Ketika semarah apapun saya, dan dia terdiam mendengarkan amukan dan celoteh saya sambil tetap tersenyum. Buat saya itu sempurna.

Ketika sesibuk apapun dia, dan dia masih mau meluangkan waktunya untuk saya. Buat saya itu sempurna

Ketika terkadang saya mengingat laki-laki lain selain dia, dan dia masih mampu menahan diri dari cemburu yang berlebihan. Buat saya itu sempurna

Ketika saya menghadapi masalah yang membuat saya tidak mampu mengendalikan emosi saya, hanya dengan tatapannya dia mampu menenangkan dan seolah berkata “everything is gonna be okay dear”. Sekali lagi itu sempuna buat saya.

Nyatanya saya hanya butuh dia,
Dia yang mampu sabar dan bertahan hingga akhir menghadapi kekurangan saya.
Dia yang saya harap tidak akan meninggalkan saya, dengan alasan se klise apapun.
Dia yang tidak suka mengumbar janji, namun memberi pembuktian.
Dia yang memang dipilih hati saya tanpa saya harus memilihnya.
Ya, itu cinta. I’ve found it. Dia baik, tanpa menuntut untuk menjadi baik.
Maka, bagaimana mungkin saya melepas kebahagiaan semacam ini? 




 

Rabu, 24 Oktober 2012

Melupakan Atau Dilupakan?

Kalau saya ditanya untuk memilih antara melupakan atau dilupakan, maka saya akan menjawab melupakan. Kenapa? kedengerannya egois? Kalau masih ada yang beranggapan seperti itu, coba pikir lagi. Melupakan merupakan kata kerja aktif sedangkan dilupakan kata kerja pasif. Sudah tahu bedanya? baik, akan saya perjelas. Melupakan, berarti saya adalah subyek sementara dilupakan, berarti saya adalah objek. Mulai jelas? ya benar, kenapa saya memilih melupakan? Karena kalau saya memilih melupakan seseorang, itu berarti orang tersebut memang sudah tidak layak untuk saya ingat baik dalam hati maupun dalam pikiran saya. Berarti ada hal atau perbuatan yang entah orang itu sadari atau tidak telah meyakiti saya dan itu tidak termaafkan.
Kalau orang yang sudah mengenal baik saya, pasti tahu bahwa saya ini orang yang ga tegaan dan ga bisa marah sama orang. So, could you imagine it? Seberapa besar kesalahan orang itu dimata saya sampai saya memilih untuk marah dan melupakannya. Tapi setidaknya saya mengeliminasi kemarahan saya dengan memaafkannya, ehm...but,karena saya ga se kece Tuhan yang kelewat baik baik baik baik, saya lebih memilih memaafkan tapi melupakan kalau saya pernah kenal orang seperti itu.
Terus kenapa saya ga milih dilupakan? Jawabannya simple, karena saya ga mau jadi orang yang terlupakan. Kamu tahu, jadi orang yang terlupakan itu buat saya lebih serem dari pada dibenci sama orang. Kalau sampai dilupakan orang, itu berarti saya sudah menyakiti orang tersebut sehingga layak untuk dilupakan. Lebay? ga ah. kalau kamu masih nganggepnya lebay, buktiin sendiri betapa ga enaknya jadi orang yang dilupain. Coba! #gaksantai
Saya, mungkin saya emang ga bisa buat semua orang mencintai saya dan pendapat saya. Tapi setidaknya, hidup di dunia yang cuma satu dan cuma sekali ini saya ingin orang yang saya kenal bisa bahagia, atau minimal senyum ketika berhadapan dengan saya. Dan senantiasa mengingat saya baik besok, 1 tahun lagi, 20 tahun lagi, bahkan 50 tahun lagi. Dan mungkin, ketika saya sudah tidak ada di dunia, mereka masih mampu mengingat diri saya dengan baik dan mengingat perlakuan saya dengan baik. Yah, walaupun saya bukan pahlawan yang jasanya selalu diingat, setidaknya kamu, dia, dan mereka yang mengenal saya bisa tersenyum hanya dengan mengingat saya. 


This is for you, my imanda.
Yang ngotot minta dikasih penjelasan kenapa saya lebih memilih untuk melupakan daripada dilupakan.