Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman laki-laki yang bertanya pada saya "caranya ngilangin rasa bosen sama pasangan kita itu gimana?", trs saya jawab, "kamu bosen sama pacarmu? emang kamu udah berapa lama pacaran?", lalu dia jawab "hampir 2 tahun. Emang mbak ga pernah ngerasa bosenkah pacaran lama?" saya jawab "enggak". Saya, tidak bisa menjawab bagaimana caranya menghilangkan kebosanan dalam suatu hubungan, karena saya tidak tahu indikator perasaan yang bagaimana yang bisa dikatakan seseorang itu bosan.
Kemudian teman saya tsb bercerita kalau dia merasa hubungannya terasa datar, dia sering memberikan kejutan untuk pacarnya tapi pacarnya jarang melakukan hal yang sama. Mereka berpacaran, tapi seperti tidak mampu saling menggenggam satu sama lain. Kalaupun bergenggaman, itu tidak erat. Kalaupun berjalan, mereka tidak beriringan, tp saling mendahului satu sama lain.
Cerita yang lain, ada teman laki-laki saya yang lain juga bercerita, dia punya mantan panggil saja mumun (yang juga teman saya sebetulnya), mereka putus karena ternyata mumun ini lebih memilih balikan dengan mantannya drpd meneruskan hubungannya dengan teman saya, yah...semacam gagal move on gitu lah. Tapi ada yang aneh disini, si mumun ini masih kelihatan masih memberikan harapan ke teman saya, dengan beralasan kalau dia balikan dengan mantannya bukan karena keinginan dia, karna sebenarnya dia masih menyayangi teman saya dan ingin teman saya untuk tetap selalu ada disampingnya. Hah, it's so complicated. Kemudian teman saya bertanya ke saya, "gw mesti gimana?", dan saya jawab "kamu tidak harus melakukan apapun, kamu cukup melihat apa yang dia lakukan. lihat bagaimana seseorang yang munafik kebingungan menata perasaannya sendiri."
Agak aneh rasanya mendengar kedua curhatan teman laki-laki saya, seorang laki-laki yang katanya pemikirannya lebih simple, tapi buat saya justru lebih cenderung rumit dari pemikiran wanita. Untuk kasus yang pertama, sebenarnya kuncinya hanya di komunikasi. Keterbukaan dan evaluasi dalam suatu hubungan itu penting, tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk bertemu dan menyampaikan keluhan masing-masing. Hal ini yang sering diabaikan oleh setiap pasangan, mereka menganggap masih tetap bisa berkomunikasi lewat ponsel. Padahal terkadang ada hal2 yang hanya bisa diselesaikan lewat bertatap muka, karna lebih jujur. Dengan ponsel, saya bisa saja mengirim emot senyum padahal aslinya gondok, ketawa ngakak padahal aslinya gak girang2 amat. Tapi lewat bertemu secara langsung, tidak ada ekspresi yang mampu ditutupi. Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menutupi apapun, sampaikan apapun keluhan kita, marahlah jika memang harus marah, menangislah jika memang harus menangis, tapi selesaikanlah saat itu juga, saat pertemuan itu, hingga disaat kita pulang untuk berpisah tidak ada lagi beban yang tak terungkap. Begitulah hubungan yang sehat bekerja, hingga nantinya tidak akan ada rasa bosan yang melanda, yang ada hanyalah berfikir bagaimana cara membahagiakan satu sama lain.
Dan di kasus kedua, kuncinya adalah jujur. Jangan berkata ya, ketika sebenarnya hatimu ingin berkata tidak. Kamulah yang bertanggung jawab atas hatimu, ketika kamu merasa tersakiti jangan salahkan orang lain, Itu salahmu yang salah dalam mengambil keputusan. Jadi terimalah konsekuensi yang ada. Hidup itu soal pilihan dan resiko, kamu tidak dapat memilih tanpa resiko.Dan ketika suatu keputusan sudah dibuat, kamu hanya harus menjalaninya dengan baik dan jangan pernah menyesal. Ah, saya benci kata itu, saya benci kata "menyesal". Karna seharusnya tidak ada penyesalan yang timbul ketika kamu sudah berani mengambil keputusan. Jangan pernah menuntut agar dunia selalu bersikap baik pada kita. It's too much dude. Jangan jadi manusia yang menyeramkan seperti itu.
Setiap hubungan tidak ada yang sempurna, kamu hanya perlu melakukan yang terbaik. Dan bila itu tidak berakhir dengan baik, setidaknya tidak ada penyesalan yang akan timbul setelahnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar