Snow and Rain

Kamis, 14 Mei 2015

Bukan Sempurna Tapi Terbaik

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman laki-laki yang bertanya pada saya "caranya ngilangin rasa bosen sama pasangan kita itu gimana?", trs saya jawab, "kamu bosen sama pacarmu? emang kamu udah berapa lama pacaran?", lalu dia jawab "hampir 2 tahun. Emang mbak ga pernah ngerasa bosenkah pacaran lama?" saya jawab "enggak". Saya, tidak bisa menjawab bagaimana caranya menghilangkan kebosanan dalam suatu hubungan, karena saya tidak tahu indikator perasaan yang bagaimana yang bisa dikatakan seseorang itu bosan.

Kemudian teman saya tsb bercerita kalau dia merasa hubungannya terasa datar, dia sering memberikan kejutan untuk pacarnya tapi pacarnya jarang melakukan hal yang sama. Mereka berpacaran, tapi seperti tidak mampu saling menggenggam satu sama lain. Kalaupun bergenggaman, itu tidak erat. Kalaupun berjalan, mereka tidak beriringan, tp saling mendahului satu sama lain.

Cerita yang lain, ada teman laki-laki saya yang lain juga bercerita, dia punya mantan panggil saja mumun (yang juga teman saya sebetulnya), mereka putus karena ternyata mumun ini lebih memilih balikan dengan mantannya drpd meneruskan hubungannya dengan teman saya, yah...semacam gagal move on gitu lah. Tapi ada yang aneh disini, si mumun ini masih kelihatan masih memberikan harapan ke teman saya, dengan beralasan kalau dia balikan dengan mantannya bukan karena keinginan dia, karna sebenarnya dia masih menyayangi teman saya dan ingin teman saya untuk tetap selalu ada disampingnya. Hah, it's so complicated. Kemudian teman saya bertanya ke saya, "gw mesti gimana?", dan saya jawab "kamu tidak harus melakukan apapun, kamu cukup melihat apa yang dia lakukan. lihat bagaimana seseorang yang munafik kebingungan menata perasaannya sendiri."

Agak aneh rasanya mendengar kedua curhatan teman laki-laki saya, seorang laki-laki yang katanya pemikirannya lebih simple, tapi buat saya justru lebih cenderung rumit dari pemikiran wanita. Untuk kasus yang pertama, sebenarnya kuncinya hanya di komunikasi. Keterbukaan dan evaluasi dalam suatu hubungan itu penting, tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk bertemu dan menyampaikan keluhan masing-masing. Hal ini yang sering diabaikan oleh setiap pasangan, mereka menganggap masih tetap bisa berkomunikasi lewat ponsel. Padahal terkadang ada hal2 yang hanya bisa diselesaikan lewat bertatap muka, karna lebih jujur. Dengan ponsel, saya bisa saja mengirim emot senyum padahal aslinya gondok, ketawa ngakak padahal aslinya gak girang2 amat. Tapi lewat bertemu secara langsung, tidak ada ekspresi yang mampu ditutupi. Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menutupi apapun, sampaikan apapun keluhan kita, marahlah jika memang harus marah, menangislah jika memang harus menangis, tapi selesaikanlah saat itu juga, saat pertemuan itu, hingga disaat kita pulang untuk berpisah tidak ada lagi beban yang tak terungkap. Begitulah hubungan yang sehat bekerja, hingga nantinya tidak akan ada rasa bosan yang melanda, yang ada hanyalah berfikir bagaimana cara membahagiakan satu sama lain.

Dan di kasus kedua, kuncinya adalah jujur. Jangan berkata ya, ketika sebenarnya hatimu ingin berkata tidak. Kamulah yang bertanggung jawab atas hatimu, ketika kamu merasa tersakiti jangan salahkan orang lain, Itu salahmu yang salah dalam mengambil keputusan. Jadi terimalah konsekuensi yang ada. Hidup itu soal pilihan dan resiko, kamu tidak dapat memilih tanpa resiko.Dan ketika suatu keputusan sudah dibuat, kamu hanya harus menjalaninya dengan baik dan jangan pernah menyesal. Ah, saya benci kata itu, saya benci kata "menyesal". Karna seharusnya tidak ada penyesalan yang timbul ketika kamu sudah berani mengambil keputusan. Jangan pernah menuntut agar dunia selalu bersikap baik pada kita. It's too much dude. Jangan jadi manusia yang menyeramkan seperti itu.

Setiap hubungan tidak ada yang sempurna, kamu hanya perlu melakukan yang terbaik. Dan bila itu tidak berakhir dengan baik, setidaknya tidak ada penyesalan yang akan timbul setelahnya.


Rabu, 13 Mei 2015

(Un)conditional Love?

Kemarin, saya baru saja menonton sebuah film judulnya “gone girl” dibintangi oleh ben Affleck as nick dan rosamund pike as amy. Diawal cerita dari film ini asumsi saya, film ini bercerita tentang seorang suami yang kehilangan istri yang sangat dicintainya, bisa jadi sang istri diculik atau dibunuh, dan sang suami menjadi sangat terpukul karna dia amat sangat mencintai istrinya tersebut. Tapi ternyata, semua asumsi saya salah besar, sampai ditengah cerita tidak ada adegan kesedihan, tidak ada adegan meratapi kepergian sang istri, dan tidak ada adegan lovable. It’s all about revenge! Ya, ternyata amy adalah seorang psikopat yang mensetting seolah2 dia dibunuh dan dibuang oleh suaminya sendiri, Nick. Dia ingin menjebloskan suaminya ke dalam penjara karna rasa sakit hatinya mengetahui kalau suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dia merencanakan dengan detail apa yang harus dia lakukan, tanpa bisa terlihat celah keraguan sedikitpun bagi polisi untuk pada akhirnya menetapkan nick sebagai pembunuhnya. How was the ending sep? Saya bingung. Saya tidak bisa mengatakan film ini sad/ happy ending. It has twist ending. Silakan buktikan.

Kamu tau apa yang saya pikirkan setelah melihat film itu? tidak ada manusia yang sanggup mencintaimu selamanya. Bahkan istri/ suamimu nantinya. Seseorang yang memiliki banyak cinta, maka sebanyak cinta itupula banyak bencinya. Ketika kamu dikecewakan oleh orang yang benar-benar kamu sayangi, maka rasa kecewanya pun berkali-kali lipat banyaknya. Itupula yang dirasakan Amy, ketika dia melihat secara langsung suaminya selingkuh dan bagaimana sang suami memperlakukan selingkuhannya persis seperti memperlakukannya saat awal perkenalan dulu. Its hard feeling to explain. Tapi, amy tidak cukup mampu mengendalikan emosinya sehingga dendam itupun bertumpuk dan pecah.

Kamu tau apa yang paling sulit dari suatu hubungan? Memaafkan dan memahami. Menyadari bahwa pada dasarnya pasangan kita juga merupakan manusia biasa yang suatu saat mampu mengecewakan. Memahami bahwasanya pasangan kita tidak sesempurna yang kita inginkan dan bayangkan. Yang mungkin kekecewaan yang bertubi-tubi itu nantinya mampu mengikis rasa cinta kita secara perlahan namun pasti dan mampu habis tak bersisa dan berganti dengan benci dan keinginan untuk membalas rasa kekecewaan tersebut. Pada akhirnya kita akan menyadari kita tidak mampu mencintai pasangan kita selamanya. Yang perlu kita lakukan agar nantinya tidak timbul dendam dari kekecewaan tersebut adalah memaafkan.

Memaafkan kesalahan yang mungkin dilakukan pasangan kita, karna menyadari manusia paling ahli dalam menciptakan kekecewaan, bukan hanya pasanganmu tapi semua manusia. Memaafkan untuk diri, yang ingin bersikap menghakimi atas kesalahan orang lain, berdamai dengan diri sendiri, dan meyakinkan diri bahwa segalanya lebih indah tanpa emosi yang berlebihan. Dan belajar dari Tuhan yang bahkan masih mau melihat Kita yang terkadang mengingkari-Nya.

Pada akhirnya, Unconditional love and Infinity Love hanya milik Tuhan kepada umatnya dan ibu kepada anaknya. Tidak ada manusia yang sanggup mencintaimu selamanya, temukan saja dia yang mampu memaafkanmu hingga akhir…