Snow and Rain

Rabu, 16 Mei 2012

Ketika Hal Itu Kembali...

Kau sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus disini. Mencintaimu. Entah kenapa.~DEE

Entah. Entah mengapa aku begitu mencintai laki-laki ini. Dia begitu dekat dalam jarak yang jauh. Dia begitu sempurna dalam kekurangannya. Dia begitu indah dalam keburukannya. Aku sempat berhenti mencintai dia, karena merasa lelah. Lelah dalam hal apa? Semua. Kepercayaan, rasa sayang, dan ketidakmengertian. Anggap saja aku yang salah, karena tidak cukup sabar menghadapinya dan tidak cukup mengertinya.

Bermodalkan rasa lelahku, aku cukup hebat melupakan itu semua. Sekalipun hal itu membuatku sedikit trauma, membuatku takut, tapi aku mulai mampu mencintai kembali. Dan aku mampu menemukan cinta yang sesungguhnya, yang tulus, dari mereka, sahabat-sahabatku. Keterbiasaan dengan mereka itu sukses melupakan rasa sakitku perlahan.

Hingga sampai di suatu saat, aku perlahan mulai mencintainya lagi. Ya, aku bertemu dia lagi, laki-laki itu. Tidak sulit mencintainya, aku hanya cukup memutar memori kenangan diotakku bersamannya. Mengingat kenangan itu, kamu tahu, semudah aku mengedipkan mata. Itu mudah. *halah, lebay!
Tapi rasa itu tidak lagi sehebat yang dulu, entahlah....aku hanya takut seperti dulu. Takut kalau "penyakit"nya akan kambuh, dan pergi lagi. Aku hanya takut meletakkan hatiku ditempat yang sama, dan ditinggalkan dengan cara yang sama.
Berlebihankah ini? seandainya kamu ada diposisi saya, saya yakin kamu akan berfikiran kalau saja membunuh itu halal, kamu tidak akan segan membunuhnya. 
***
Membahagiakanku itu mudah, jangan pernah bohong dan marah yang tak perlu. Bukankah hidup kita lebih baik tanpa keduanya?

Perubahan, itulah hal yang ingin saya lihat darinya. Bukan perubahan dalam hal sifat, tapi sikap. Bukan berarti aku tidak mau menerima dia apa adanya, hanya saja hati ini sudah cukup lelah mengalami perpisahan dengan alasan yang sama. Dan perpisahan itu cukup menguras hati dan pikiran untuk memulihkannya bung. Aku hanya ingin menyudahi perpisahan yang ada, agar tidak terulang untuk yang kesekian kalinya.

 Akupun akan membenahi diriku karena mungkin terkadang aku cukup pandai membuat kesalahan. Aku tidak cukup mengerti kamu. Ketika aku membenahi itu semua, semoga kamu juga akan melakukan hal yang sama kalau kamu tidak ingin hal yang sama terjadi kembali, bukankah tujuan kita sama, inigin ini yang terakhir?
Tapi jika kejadian yang sama terulang kembali tanpa kamu mengubah sikapmu, jangan katakan ada kata "menyesal" dalam kamusmu. Karena menyesalpun, kisah itu tidak akan pernah ada lagi. Karna akupun tidak ingin berjuang sendiri lagi. Karna aku amat sangat pantas merasa lelah.
Saya rumit dan akan tetap seperti ini. Kamu perlu bersabar dan mencintai saya dengan lebih bijaksana. Kelak, sayapun akan mencintaimu dengan kesetiaan sepanjang usia. Percayalah.

Kalaupun suatu ketika tiba-tiba aku hilang, aku pasti hilang karena sikapmu, bukan karena inginku.