Terkadang ada bias untuk mengungkapkan dan mengartikan
tentang hal-hal apa yang kita inginkan dan tentang apa yang kita butuhkan. Kita
manusia, kadang suka melangkahi Tuhan dengan menganggap sesuatu (entah benda
ataupun manusia) adalah apa yang kita butuhkan. Yang padahal kalau ditelisik
lebih jauh, rata-rata yang mengatakan itu adalah kebutuhan adalah hanya nafsu
kita untuk mendapatkan hal tersebut.
Dulu saya begitu, Saya teramat sangat menjaga orang yang saya
anggap saya sangat membutuhkannya. Demi cara apapun saya menjaga orang tersebut
agar tidak lepas dari saya. Yang pada akhirnya, saya pun harus kehilangannya.
Bukan karena saya menyerah mempertahankannya, hanya saja dia yang melepaskan
dirinya sendiri. Bukan saya yang sudah tidak membutuhkannya, hanya saja dia
sudah tidak membutuhkan saya lagi untuk kehidupannya.
Awalnya saya sedih karena mungkin merasa sangat kehilangan,
namun ketika saya mengalami kehilangan yang berkali-kali pada orang yang sama,
perlahan saya mulai merasa mati rasa, saya mulai tidak bisa merasakan apa itu
kehilangan dan apa itu menjaga. Entah merasa lelah entah mulai menyadari bahwa
dia bukanlah orang yang saya butuhkan.
Saya menyadari, harusnya orang yang saya butuhkan bukanlah
orang yang menyakiti kemudian menyesal dan meminta maaf, orang yang saya
butuhkan adalah orang yang akan berfikir 100 kali lebih banyak apabila ingin
menyakiti saya. Karena seharusnya, orang yang menyayangimu dengan benar tidak
akan pernah berfikir untuk menyakitimu sekalipun. Sejak saat itu, saya memahami
dan saya mulai belajar untuk mengerti bahwa tidak semua yang kamu inginkan
adalah yang kamu butuhkan. Dan tidak
semua yang kamu inginkan dapat kamu dapatkan.
Nyatanya, Tuhanlah yang selalu benar. Setengah mati kita
menyangkalnya, Dia akan menunjukkannya. Kalaupun hingga saat ini saya masih
mengingatnya, itu karena Tuhan masih memberikan tempat di otak saya untuk
mengingatnya tapi bukan untuk memilikinya lagi. Dia memang yang saya inginkan,
tapi dia bukan yang saya butuhkan. Saya lebih butuh kamu, yang tidak akan
pernah meninggalkan saya sesulit apapun itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar