Snow and Rain

Senin, 30 April 2012

Pendapat Hati

yak, saya lagi galau. kedengeran ga pantes emang, seumuran saya rasanya udah kelewat tua buat galau. Hahaha, tapi...ga salah juga kan ya. Udah nginjak kepala dua ini, saya atau bahkan anda mungkin juga pasti pernah merasa sikap kita tidak sedewasa umur kita. baik dalam hal memperlakukan diri sendiri maupun memperlakukan orang lain.
Kadang suka ngerasa ga suka sama orang tanpa tau apa yang kita ga suka dari dia, klo kata temen saya, itu namanya semacam penilaian secara subyektif. Nah, ini yang mau saya dalamin (aih, sok banget), tentang pemikiran secara subyektif. Pernah ga seumur hidup kalian, kaliana berfikirtau menilai sesuatu secara subyektif? Saya yakin pasti pernah, apalagi yang cewek-cewek. Lalu adakah yang salah dari penilaian subyektif? Mungkin yang ini jawabannya relatif. Tapi klo saya pribadi, saya ga bisa menyalahkan orang yang menilai sesuatu secara subyektif. Karena sebuah penilaian baik itu secara subjektif maupun objektif pasti sebelumnya melalui suatu pemikiran dan pastinya seseorang mempunyai alasan untuk menilai. Sekalipun kamu membenci seseorang dan kamu blg kamu ga tau kenapa membenci dia, itu sudah menjadi sebuah alasan. Karena terkadang, bukan otak yang memerintahkan kita bicara seperti itu, tapi hati.
Sebagai manusia sadarkah kamu bahwa kalian dianugerahi hati yang luar biasa, hati yang terkadang mampu berbicara tanpa otak harus mengolahnya. Itu namanya instinct! Pernahkah ketika kamu mengajak seorang teman laki-lakimu ke rumah dan kemudian ibumu berkata padamu dan menilai bahwa laki-laki itu bukan laki-laki yang baik? itu kedengarannya subjektif memang, tapi saya katakan, jangan pernah meremehkan instinct seorang ibu. Karena saya sering menemukan kasus seperti ini, dan nyaris berakhir sama, instinct mereka terbukti benar.
Jadi jangan meremehkan suatu penilaian subjektif, jangan mengabaikan hal kecil itu, jangan mengucilkan pendapat hati. Karena sekalipun, otak adalah anugerah terhebat yang pernah Tuhan ciptakan bagi manusia, dalam proses pemikirannya, mereka juga membutuhkan pendapat sebuah "hati" sebagai pertimbangan.
Yah, ini hanya pendapat saya yang memang terkadang sok tahu nya suka kumat. Karena manusia hanya dituntut untuk berjalan, dan yang membenarkan arahnya adalah Tuhan. Dia absolut...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar